Pages

Saturday, 1 May 2010

JALAN CINTA PARA PEJUANG

Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamualaikum wbt..

Selawat dan salam ke atas kekasih yang dicintai..Muhammad bin Abdullah..

Esok paper ke 2 last untuk imtihan thani..moga akal fikiranku seimbang saat2 hampir ke jam 2 esok petang (tentunya selepas itu ku harapkan terus akal fikiranku waras)..

Lebih penting, harap hati ini tidak terhijab dengan kelakuan hati, pandangan dan tingkah laku ku..

Sedikit masa ku ambil dari masa study untuk menghadap blog ni..kerna ku terjumpa cebisan kisah dari buku kegemaranku..


Setiap kisah di dalam buku ini (JALAN CINTA PARA PEJUANG) sangat enak dibaca..walaupun bahasanya Indonesia, tapi ayat2nya dan kisah2nya tetap menyentuh jiwa keras ni..waduh, benar ku rindu sekali buku ini!!!

Dipersilakan kalian untuk berkongsi perasaan ingin memiliki buku ini..nah!!



Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda'.

"Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .", girang Abu Darda' mendengarnya.Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjurutengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

"Saya adalah Abu Darda', dan ini adalah saudara saya Salman seorangPersia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telahmemuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yangutama di sisi Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam, sampai-sampaibeliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakilisaudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya. ", fasih Abud Darda' bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
"Adalah kehormatan bagi kami", ucap tuan rumah, "Menerima Anda berdua,shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami." Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

"Maafkan kami atas keterusterangan ini", kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. "Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda' kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan."

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

"Allahu Akbar!", seru Salman, "Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda', dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!"

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan 'merasa dikhianati'- , merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, "Milik nggendhong lali". Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

[Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah]

sekian, nota2 التطبيقات الحديثة في الاقتصاد الاسلامي kembali ku buka..
wallahua'lam..

4 comments:

ilmi said...

Salam..

er.. ini ada kaitan dengan kisah2 abang iparkah..? tukar versi mungkin :p

mujahidahiman said...

waalaikumussalam..

xdela..rasa mcm xnak cerita je kisah2 hari tu kat cni..kisah2 istimewa,bkn semua org blh tau..hehe..

btw,buku ni dh saya jatuh cinta padanya sebelum dpt 2 lg abg ipar tu..=)

Nur 'Adilah binti M. Afanddi said...

buku tu...mmg akak betul2 hayati...
sangat2 kagum...ade pluang boleh baca lagi...i.Allah.

mujahidahiman said...

adilah..
rasa mcm xprcaya plak..mula2 awk bg bku tu akak xnak..

tp amk jela coz nak try baca..ha, amik nak..skrg dh rndu2 nk bca lg..

thanks dik=)